1. Ibnu ‘Amir
Nama
lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby seorang qadhi di Damaskus pada
masa pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Pannggilannya adalah Abu
Imran. Dia
adalah seorang tabi’in, belajar qira’at dari Al-Mughirah ibnu Abi
Syihab al-Mahzumy dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau
Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. Orang yang menjadi murid, dalam
qira’atnya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.
Dalam hal ini pengarang Asy-Syathiby
mengatakan: “Damaskus tempat tinggal Ibnu ‘Amir, di sanalah tempat yang
megah buat Abdullah. Hisyam adalah sebagai penerus Abdullah. Dzakwan
juga mengambil dari sanadnya.
2. Ibnu Katsir
Nama
lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky,
ia adalah imam dalam hal qira’at di Makkah, ia adalah seorang tabi’in
yang pernah hidup bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair. Abu Ayyub
al-Anshari dan Anas ibnu Malik, dia wafat di Makkah pada tahun 120 H.
Perawinya dan penerusnya adalah al-Bazy wafat pada tahun 250 H. dan
Qunbul wafat pada tahun 291 H.
Asy-Syathiby
mengemukakan: “Makkah tempat tinggal Abdullah. Ibnu Katsir panggilan
kaumnya. Ahmad al-Bazy sebagai penerusnya. Juga….. Muhammad yang disebut
Qumbul namanya.
3. ‘Ashim al-Kufy
Nama
lengkapnya adalah ‘Ashim ibnu Abi an-Nujud al-Asady. Disebut juga
dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar, ia adalah seorang
tabi’in yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah. Kedua
Perawinya adalah; Syu’bah wafat pada tahun 193 H dan Hafsah wafat pada
tahun 180 H.
Kitab Syathiby
dalam sya’irnya mengatakan: “Di Kufah yang gemilang ada tiga orang.
Keharuman mereka melebihi wangi-wangian dari cengkeh Abu Bakar atau
Ashim ibnu Iyasy panggilannya. Syu’ba perawi utamanya lagi terkenal pula
si Hafs yang terkenal dengan ketelitiannya, itulah murid Ibnu Iyasy
atau Abu Bakar yang diridhai.
4. Abu Amr
Nama
lengkapnya adalah Abu ‘Amr Zabban ibnul ‘Ala’ ibnu Ammar al-Bashry,
sorang guru besar pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yahya,
menurut sebagian orang nama Abu Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat
di Kufah pada tahun 154 H. Kedua perawinya adalah ad-Dury wafat pada
tahun 246 H. dan as-Susy wafat pada tahun 261 H.
Asy-Syathiby
mengatakan: “Imam Maziny dipanggil orang-orang dengan nama Abu ‘Amr
al-Bashry, ayahnya bernama ‘Ala, Menurunkan ilmunya pada Yahya
al-Yazidy. Namanya terkenal bagaikan sungai Evfrat. Orang yang paling
shaleh diantara mereka, Abu Syua’ib atau as-Susy berguru padanya.
5. Hamzah al-Kufy
Nama
lengkapnya adalah Hamzah Ibnu Habib Ibnu ‘Imarah az-Zayyat al-Fardhi
ath-Thaimy seorang bekas hamba ‘Ikrimah ibnu Rabi’ at-Taimy, dipanggil
dengan Ibnu ‘Imarh, wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu Ja’far
al-Manshur tahun 156 H. Kedua perawinya adalah Khalaf wafat tahun 229 H.
Dan Khallad wafat tahun 220 H. dengan perantara Salim.
Syatiby
mengemukakan: “Hamzah sungguh Imam yang takwa, sabar dan tekun dengan
Al-Qur’an, Khalaf dan Khallad perawinya, perantaraan Salim
meriwayatkannya.
6. Imam Nafi.
Nama
lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ ibnu Abdurrahman ibnu Abi Na’im
al-Laitsy, asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi’ berakhirlah
kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun
169 H. Perawinya adalah Qalun wafat pada tahun 12 H, dan Warasy wafat
pada tahun 197 H.
Syaikh
Syathiby mengemukakan: “Nafi’ seorang yang mulia lagi harum namanya,
memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya. Qolun atau Isa dan Utsman
alias Warasy, sahabat mulia yang mengembangkannya.
7. Al-Kisaiy
Nama
lengkapnya adalah Ali Ibnu Hamzah, seorang imam nahwu golongan Kufah.
Dipanggil dengan nama Abul Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan
nama Kisaiy karena memakai
kisa
pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa di
Negeri Roy ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada
tahun 189 H. Perawinya adalah Abul Harits wafat pada tahun 424 H, dan
ad-Dury wafat tahun 246 H.
[4]
Inilah Qiraat yang 7, adapun tambahannya adalah:
8. Qiraat Ya’kub bin IshaQ Hadhrami. Meninggal 250 Hijrah.
9. Qiraat Khalaf bin Hisyam. Meninggal 229 Hijrah.
10. Qiraat Yazid bin Al- Qa’qa dikenali sebagai Abu Ja’far. Meninggal 130 Hijrah.
Disamping itu terdapat pula Qiraat 14, yakni ditambah :
11. Qiraat Hasan Al Bashri. Meninggal 110 Hijrah.
12. Qiraat Yahya bin Al Mubarak Al Yazid. Meninggal 202 Hijrah.
13. Qiraat Muhammad bin Abdurrahman yang dipanggil Ibnu Muhaishan. Meninggal 123 Hijrah.Q
14. iraat Abil- Faraj Muhammad bin Ahmad Asy- Syanbuzi. Meninggal 388 Hijrah.[5]
F. Syarat-Syarat Qiraat yang Muktabar dan Jenisnya
Untuk
menangkal penyelewengan Qiraat yang sudah mulai muncul, para ulama
membuat persyaratan-persyaratan bagi qiraat yang dapat diterima. Hal ini
untuk membedakan Qiraat yang benar dan yang aneh/asing (Syazzah). Para ulama membuat tiga syarat. Pertama, Qiraat itu sesuai dengan bahasa Arab meskipun menurut satu jalan. Kedua, Qiraat itu sesuai dengan salah satu mushaf-mushaf utsmani. Ketiga, sahih sanadnya.
Referensi:
Ahmad Syadali dkk, Ulumul Qur;an, Pustaka Setia, 224
Abdul al Rahman bin Kamal Jalal al Din al Suyuti, al Itqan fi ulum al Qur’an, tt.
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-30.html
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-33.html
http://sabapersonalalbum.blogspot.com/2007/07/ulumul-quran-part-1-disusun-oleh-shinri.html
[1] Ahmad Syadali dkk, Ulumul Qur;an, Pustaka Setia, 224
[2] saved from url=(0067)http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-30.html
[3] Abdul al Rahman bin Kamal Jalal al Din al Suyuti, al Itqan fi ulum al Qur’an, tt.
[4] saved from url=(0067)http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-33.html
[5] saved from url=(0090)http://sabapersonalalbum.blogspot.com/2007/07/ulumul-quran-part-1-disusun-oleh-shinri.html