BIOGRAFI AL-HAFIDH IBNU HAJAR AL-ASQALANY (773-852
H)
Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban
773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan
termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi,
kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat
tahun.
Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada
dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu
ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri.
Perjalanan Ilmiah Ibnu
Hajar
Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah
berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi
untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah
genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun.
Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang
ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan
Milhatul I’rab.
Semangat dalam menggali ilmu, beliau
tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau
melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk
menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di
antaranya:
1.
Dua tanah haram, yaitu
Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di
Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan
Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin
an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar
berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan
umrah.
2.
Dimasyq
(Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari
kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin
dan al Bulqini.
3.
Baitul Maqdis, dan
banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah.
Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil
manfaat.
4.
Shana’ dan
beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.
Semua ini, dilakukan oleh al Hafizh
untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari
sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqlani sangat
banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti:
‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad
bin ‘Abdullah bin Zhahirah al Makki (wafat 717 H), Abul Hasan al Haitsami (wafat
807 H), Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al Bulqini Rahimahullah (wafat
805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al Hafizh mengajar dan
berfatwa. Kemudian juga, Abul-Fadhl al ‘Iraqi (wafat 806 H) –beliaulah yang
menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan al Hafizh, mengagungkannya dan
mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang
hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin Rahimahullah –dari beliau ini al Hafizh
mendengarkan shahih al Bukhari-, al ‘Izz bin Jama’ah Rahimahullah, dan beliau
banyak menimba ilmu darinya. Tercatat juga al Hummam al Khawarizmi Rahimahullah.
Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, al Hafizh belajar kepada al Fairuz Abadi
Rahimahullah, penyusun kitab al Qamus (al Muhith-red), juga kepada Ahmad bin
Abdurrahman Rahimahullah. Untuk masalah Qira’atus-sab’ (tujuh macam bacaan al
Qur’an), beliau belajar kepada al Burhan at-Tanukhi Rahimahullah, dan lain-lain,
yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan
hadits.
Jadi, al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani
mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan
rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana
kebiasaan para ahli hadits.
Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas
ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi (para penuntut ilmu,
murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga
banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab
adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-shakhawi (wafat
902 H), yang merupakan murid khusus al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al
Biqa’i (wafat 885 H), Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah
(wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871
H), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Karya-Karyanya
Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat
terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai
mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam
karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang
lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan
tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling
memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar Rahimahullah. Bahkan sampai
sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya
beliau Rahimahullah.
Di antara karya beliau yang terkenal
ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al
Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut
Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.
Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam
asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada
zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan
dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).
Mengemban Tugas Sebagai
Hakim
Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu’,
hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat
malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat
wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik
kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap
orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat
yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk
menjabat sebagai hakim.
Sebagai contohya, ada seorang hakim yang
bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh untuk menjadi wakilnya,
namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman.
Kemudian, Sulthan al Muayyad Rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara
yang khusus kepada Ibnu Hajar Rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al
Bulqani Rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga
menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada
tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya,
karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan
lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka
ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena
itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat
menyulitkan untuk menegakkan keadilan.
Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau
8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.
Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya
lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga
al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau
menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira,
karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah,
yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833
H.
Jabatan sebagai hakim, beliau jalani
pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang
meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya
fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.
Jika dihitung, total jabatan kehakiman
beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau
memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau
wafat.
Selain kehakiman, beliau juga memilki
tugas-tugas:
- Berkhutbah di Masjid Jami’ al
Azhar.
- Berkhutbah di Masjid Jami’ ‘Amr bin al
Ash di Kairo.
- Jabatan memberi fatwa di Gedung
Pengadilan.
Di tengah-tengah mengemban tugasnya,
beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti
hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab,
mengajar tafsir, hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan
dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama
dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.
Kedudukannya
Ibnu Hajar Rahimahullah menjadi salah
satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu
pemimpin ilmu. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki,
sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.
Seandainya kitab beliau hanya Fathul
Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau.
Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaii
wasallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.
Syaikh al Albani Rahimahullah
mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi
dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam
golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah
Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah.
Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal:
Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak
mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju
aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal
tidak.
Wafatnya
Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28
Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di
hadapan Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah ash-Shugra.
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan
mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.
Sumber: Kitab al Ajwibah
al Mufidah min As’ilah al manahij al Jadidah, Kitab Fathul Bari (Abdul ‘Aziz bin
Baaz ),





